Selamat Datang di Website resmi Badan Pemberdayaan Masyarakat Provinsi Jawa Timur
Kamis, 21 Februari 2013 09:22

Ruqoyah, Peraih Pro Poor Award

Mempekerjakan Penyandang Cacat

Ketekunan menjadi kunci keberhasilan Ruqoyah dalam menjalani bisnis tenun ikat. Dia tidak pernah menyangka akan menerima anugerah Pro Poor Award Tahun 2012 dari Gubernur Jawa Timur, Dr H Soekarwo.

Ruqoyah menekuni usaha tenun ikat bersama suaminya Munawar, sejak tahun 1989. Kebetulan Munawar pernah bekerja di pabrik tenun, namun kemudian mengundurkan diri. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga Ruqoyah mencoba merintis usaha tenun ikat yang kebetulan berada di Bandar Kidul, Kota Kediri, sebagai sentra tenun ikat.

Daerah Bandar Kidul merupakan sentra tenun ikat sejak zaman dulu. Kemudian kami mencoba untuk menghidupkan kembali tradisi tenun ikat untuk kelestarian budaya,” kata Ruqoyah kepada Gema Desa di rumahnya. Dijelaskan Ruqoyah, ketekunan dan kerja kerasnya berbuah hasil. Tahun 1995, dengan modal sendiri, dia membeli mesin ATBN sebanyak lima unit dan mulai memasarkan produk tenunnya di wilayah Kediri, Nganjuk dan Surabaya. Produk tenun ikat mulai dikenal masyarakat terutama produk sarung tenun.

Pada tahun  1998 produksi sarung tenun terpaksa berhenti karena krisis ekonomi melanda Indonesia. Bahan tenun dan pasar sarung lesu, akibatnya produk tenun ikat tidak laku di pasaran. Orang lebih suka memilih memenuhi sembako dari pada membeli sarung mahal.

“Produk tenun Ikat ini semuanya  mengunakan  alat  tradisional. Keunggukan produk tenun ada design dan motif yang berbasis budaya,” terang lulusan Universitas Negeri Surabaya ini.

Andalkan Motif dan Kualitas

Roqoyah menjelaskan, produk tenun ikat Medali Emas saat ini sudah terkenal dan diakui secara nasional. Pelanggannya mulai dari kalangan pejabat negara, PNS dan pelajar. Bahkan istri Menteri Koperasi dan UKM pernah berkunjung ke pabrik Medali Emas. Keunggulan produk tenun ikat Medali Emas adalah motif dan kualitas yang terjamin. Motif tenun dikerjakan Ruqoyah dengan kreatif dan imajinatif. Dia tidak pernah membaca buku desain atau mencontoh desain di internet.

“Saya tidak pernah baca buku atau buka internet untuk lihat desain. Semuanya dikerjakan melalui ide saya. Jika ada orang pesan, saya langsung bikin desainnya kemudian disesuaikan dengan permintaan pelanggan,” katanya.

Tenun ikat Kota Kediri  mulai berkembang pada tahun 2000. Ketika itu Wali Kota Kediri memberlakukan aturan setiap hari Kamis pejabat dan PNS di lingkungan Kota Kediri wajib memakai tenun ikat sebagai ciri khas kota Kediri. Alasannya demi melestarikan daya tenun ikat. Dari situlah tenun ikat mulai dikenal publik dipasarkan secara luas, terutama Jawa, Bali dan Lampung. Kini tenun ikat kebanjiran perminaan terutama ketika menjelang Hari Raya. Semua peajin tenun di Bandar Kidul tidak bisa memenuhi permintaan besar karena mesin tenun masih menggunakan alat tradisional.

“Setiap hari saya bisa menyelesaikan tenun ikat sebanyak 30 lembar. Jika satu bulan saya bisa menyelesaikan 750 lembar. Omset saya per bulan mencapai Rp 100 juta sampai Rp 150 juta dengan jumlah karyawan 60 orang,” kata Ruqoyah. Ruqoyah mengakui, dukungan pemerintah daerah maupun pusat terhadap pelestarian tenun ikat cukup tinggi, ditambah lagi dengan aturan pemakaian batik dan tenun untuk pejabat PNS. Hal ini menjadi peluang pasar untuk terus meningkatkan produk tenun ikat. Dia sering kewalahan memenuhi permintaan pelanggan untuk tenun ikat, sehingga mengajak tetangganya untuk membantu produk tenun ikat. “Syukur sekarang banyak ibu tetangga yang mau menjadi pekerja tenun ikat Kota Kediri. Dari hasil kerja borongan itu mereka bisa mendapatkan penghasilan tambahan per bulan,” kata Ruqoyah.

 

 

Berdayakan Penyandang Cacat

Disampaikan Ruqoyah, tujuan utama bisnis tenun ikat adalah untuk melestarikan budaya tenun ikat yang saat ini mulai jarang dilakukan. Selain itu membantu tetangga dan mengentaskan pengangguran dan kemiskinan di Kota Kediri. Alasannya, dengan adanya tenun ikat dia bisa mempekerjakan 60 karyawan dengan bayaran rata-rata Rp 400 ribu per bulan. Semua karyawan tenun ikat tidak diwajibkan memiliki ijazah, namun cukup punya keahlian dan mau bekerja keras. Tak jarang Ruqoyah mempekerjakan karyawan tuna rungu dan penyandang cacat.

“Saya punya karyawan lima orang lansia dan 15 orang peyandang cacat. Mereka bekerja dengan bayaran sesuai dengan bidang keahlian. Sebelumnya mereka mendapatkan pelatihan soal tenun ikat,” kata wanita yang kerap ikut pameran tenun ini. Selain mengurus bisnis tenun ikat Ruqoyah juga menggelar pelatihan tenun ikat kepada pelajar dan mahasiswa. Bahkan setiap bulan dia mengadakan pelatihan tenun ikat bekerja sama dengan Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Kediri.

Tujuannya berbagi ilmu soal tenun ikat kepada semua lapisan masyarakat mulai dari ibu rumah tangga sampai penyandang cacat. Dari hasil pelatihan ini dia memberi uang saku plus sertifikat gratis. Bahkan peserta yang dinilai punya keinginan untuk bekerja diberi kesempatan menjadi karyawan di perusahaan tenun ikat Medali Emas.

“Karyawan saya ada yang lepas dan ada yang tetap. Kalau lepas mereka bisa mengerjakan tenun di rumah masing-masing. Sementara yang karyawan tetap harus bekerja dari pagi sampai sore,” kata Ruqoyah yang ingin punya showroom plus ruangan untuk pelatihan tenun.

Soal pemberdayaan masyarakat, Ruqoyah mengaku bangga karena bisa membantu dan berbagi ilmu kepada masyarakat terutama penyandang cacat. Alasannya, pabrik atau industri jarang yang mau mempekerjakan penyandang cacat. Karena itu perlu adanya pemberdayaan ekonomi dengan skala kecil seperti home industry dan UKM.

Ke depan Ruqoyah berharap dukungan pemerintah baik dari modal dan pelatihan. Keberlangsungan tenun ikat dan budaya tradisional sangat bergantung pada partisipasi pemerintah dalam melestarikan budaya lokal. (ham)

 

Login



Arsip

Pengunjung Online

Pengguna online 10 tamu
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini674
mod_vvisit_counterKemarin886
mod_vvisit_counterMinggu ini674
mod_vvisit_counterMinggu lalu7823
mod_vvisit_counterBulan ini25510
mod_vvisit_counterBulan lalu40155
mod_vvisit_counterTotal1647902

Agenda Kegiatan



Kalender

Desember 2014
SSRKJSM
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031

Pencarian

Survey Polling

Bagaimana Tampilan Website BAPEMAS Prov. Jatim?
 
Copyright © 2009 - 2014 Bapemas Provinsi Jawa Timur All Rights Reserved.